Kini, Mengartikan Kisah Sendiri
Kali ini, izinkan aku
berterimakasih kepada Tuhan, pada tiap takdirnya yang gak kuinginkan, yang tiap
sabar dan ikhlasnya sedang kuusahakan.
Desember, di akhir tahun
ini, punya banyak warna rasa buatku. Selir gumilir lirih tangisnya.. aku iyakan
saja. Lagi-lagi aku menjumpai lara. Lagi-lagi aku menyapa serah,
Tapi ada yang bilang,
jangan dulu menyerah sebelum semuanya selesai. Jangan dulu mundur, sebelum kamu
maju. Aku sadar, di tahun ini banyak pilihan yang kuputuskan secara cepat. Alhasil,
ditengah-tengahnya aku memikul ikhlas, memeras sabar.
Bodoh! adalah umpatanku. Dan
tetaplah bodoh, adalah motivasiku untuk terus mencari ilmu dan agar tidak
sombong.
Di tahun ini, beberapa
pertanyaan rumitku terjawab. Aku juga memulai perjalanan meluruskan jiwa.
Di hidup cuman sekali
ini, kenapa ya aku belum juga merasakan diperjuangkan. Ada kalimat
begini bunyinya, kamu naik bis, kamu gak kenal sama supirnya.. tapi kamu yakin
akan sampai tujuan. Kamu naik kapal, kamu gak kenal sama nahkodanya.. tapi kamu
yakin sampai tujuan. Terus gak masuk akal, di hidup ini .. kamu kenal sama
Tuhanmu tapi kamu ragu sampai tujuan?
Kalimat itu menohok. Aku menulis
di buku diary ku yang bahkan aku lupa jika pernah menuliskannya, “Ini terbaik,
yang kemarin terbaik, yang kamu jalani terbaik, dan kedepannya juga terbaik”. Ini
Allah, Tuhan seluruh alam yang mengatur, kenapa masih resah?
Aku tau, kita manusia,
wajar jika merasakan banyak hal. Tapi.. mari coba tenangkan. Duhai hati dan
jiwa, mari harmoniskan.. bahwa hidup ini adalah tentang Kembali pada-Nya.
Jika ternyata benar aku
belum ikhlas dan sabar, maka mampukan aku untuk itu, ya allah.
Maaf, jika aku berbohong,
seringnya aku hilang sadar.
Aku ingin terus sabar.
Komentar
Posting Komentar