Wanita Yang Berbeda
| Seorang Wanita Yang Berbeda |
Seorang Wanita Yang Berbeda
Aku tersentak dalam diam. Mengarungi samudra
pikiran, mencari jawaban. Aku benar-benar gak habis pikir, di dunia ini
ternyata ada wanita seperti itu. Kupikir ia hanya ada saat film film karya
hanung bramantyo saja, atau novel yang ditulis oleh asma nadia. Nyatanya tidak.
Ia nyata, ada di sudut kota Malang sana.
Bila kalian menuntut standar kecantikan barat,
aku yakin kalian tidak akan sepakat denganku kalau ia itu teramat cantik. Kulit
sawo matangnya seolah menggambarkan seberapa tangguhnya ia berjalan dalam visi
hidupnya. Caranya berbicara dan menyampaikan seolah tak luntur walau ia adalah
ibu dari delapan anak, dan semuanya di didiknya, homeschooling.
Mengejutkan bukan? Seorang wanita hebat luar
biasa, istri dari dokter Hasan asal Australia (kalau tidak salah). Ada lagi
yang membuat tertegun, ia dan keluarga hidup di hutan, jauh dari keramaian jauh
dari polusi dan jauh dari hingar bingar keributan. Dan julukannya adalah “green
mommy”, seolah dari sini kita sudah tau siapa dia sebenernya.
Ini bermula saat aku tak sengaja melihat story
whatsapp dari salah murabbiku, murabbiku menceritakan bagaimana dia dulu sering
mengikuti satu keluarga yang membuatnya terkagum-kagum sampai sering mengikuti
media sosialnya dan dulu sempat bertemu dalam salah satu trainningnya. Saat
melihat SW itu, aku ikut penasaran siapa orang yang dikagumi itu. Lantas di
story berikutnya…
Benar-benar membuat mataku membulat,
terpelongo. “Wah.. seriusan? Kok bisa?!”, batinku saat melihat caption
murobbiku. Tanpa pikir panjang aku komen dan bertanya demikian. Jawab murabbiku
“Iya.. keren yaa”. Benar-benar membuatku geleng-geleng bukan main, seluruh
pikiranku jadi kacau, akal dan perasaan sepertinya tidak akan menerimanya. Aku benar
benar ga habis pikir.
Jariku langsung mengarah ke instagram mencari
akun yang ada di SW murabbiku, dan.. aku menemukannya. Video berdurasi sekitar
5 menitan itu kutonton. Dan benar saja, wanita ini sedang mencari co-wives!. Ia
mencari satu atau dua atau tiga istri untuk suaminya, berapa pun yang ada ia
bersyukur. Satu hal yang ia garisi, calon istri bagi suaminya itu harus tidak
ragu sama sekali soal poligami. Dan ia benar-benar tulus mencarinya.
Whats?!
Banyak pertanyaan dalam perasaanku.. bagaimana bisa? Kenapa? Apa tidak apa-apa?
Gimana perasaannya? Apa yang dipikirkan? Kurang apa? Sebesar apa hatinya? Seluas
apa pikirannya? Bagaimana bisaaa….
Ini benar-benar membuatku terdiam cukup lama,
berfikir berulang-ulang kali. Merenung dan mencoba memahami. Tapi aku tak
sanggup, heh.. (senyum tipis). Mungkin aku yang terlalu egois soal cinta,
menyukai dan rasa. Tentang pernikahan. Nyatanya bukan itu. Ada jauuuh lebih
besar daripada hal kecil itu. Yang dibawakan oleh wanita ini, yang membuatku
tersadar atas banyak hal dan mengubah seluruh tatanan pikiranku.
Satu kalimat dari murobbiku “Mereka menikah
bukan hanya sekedar cinta. Tapi untuk visi yang lebih besar dari itu”. Singkat
dan membuatku berfikir sekali lagi. Ah..! ternyata di hidup ini ada banyak hal
yang tidak aku ketahui, karena sejengkal pikiranku yang dangkal. Sedang disisi
lain sana ada yang berusaha menjadi sebenar-benarnya khalifah di bumi dengan
peran terbaiknya di hidup ini. Sosok wanita yang berbeda ini, yang tangguh,
yang keren dan mungkin hatiku tak sebesar hatinya untuk melakukan itu nanti,
terimaksaih sudah memberiku banyak pelajaran.
Dan semoga, kita menjadi wanita yang
berdedikasi untuk keluarga dan peradaban.
Dariku,
Penulis amatir
Komentar
Posting Komentar