"Aku gak bisa nikah cuman cinta-cintaan. Harus ada prokernya"


 "Aku gak bisa nikah cuman cinta-cintaan. Harus ada prokernya"

Cerpen by : pukosaa


    Ini adalah percakapan aku dan dua temanku hari lalu, tak nyata karena aku tambah khayalan di beberapa sesi kisah. Yaa mungkin ini hanya obrolan biasa menurut kalian, tapi mungkin bisa aja jadi inspirasi atau ada sesuatu yang bisa kalian petik. Ini tentang persahabatan, tentang kehidupan, atau mungkin hanya candaan...

*

    Di sudut kota paling ujung, disebuah rumah tak terlalu besar. Saat matahari menyembunyikan sinarnya dibalik awan, ada tiga manusia yang berkawan lebih dari empat tahun berkumpul dalam satu ruangan. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, mengenai amanah juga tanggung jawab yang dipikul. Pandemi masih menjalar, dan kehidupan kampus juga masih berlayar secara online. Entah keuntungan atau kerugian, yang jelas ini patut disyukuri, sebab semuanya bisa disambi. Sambi rebahan, sambi balesin chat, sambi becandaan dengan kawan, atau sambi bermain dirumah teman sampai seharian. 

    Sebut saja tiga orang itu Aci, Bisi, dan Caka. Mereka memang berkumpul, namun mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, hingga obrolan diantara mereka menjadi intuisi sendiri dalam tatapan juga senyuman. Namun, ada satu obrolan ditengah-tengah itu semua... Saat Bisi memaparkan apa apa yang akan ia lakukan kedepannya, menyelesaikan semua amanah, fokus untuk skripsi, dan banyak hal-hal yang ingin ia lakukan sebagai target hidupnya.

    Setelah Bisi berbicara, tiba-tiba Caka memotong, "Si, terus kamu kapan nikahnya?". Aci yang sedari diam juga baru tersadar bahwa hal itu memang belum dilontarkan dalam planning hidup Bisi. "Erm.. jujur aku gak ada pikiran kesitu. Gatau", jawab Bisi jujur. Caka terkejut, "Waah.. ini sih lebih parah daripada childfree..." sambil menatap Aci. Aci serius dan berusaha menenangkan "Ehh.. dengerin penjelasannya dulu, dia punya alesan". Kemudian Bisi menjelaskan, menceritakan juga memberi pemahaman. Aci dan Caka memahami bahwa memang harus ada yang diselesaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke pernikahan, termasuk tentang dirinya atau orang lain. Bukan berarti tak mau menikah tapi ada hal yang perlu diselesaikan," dicapai juga disiapkan. Bukan juga tak mau menjalankan sunnah, tapi memang belum ada keseriusan disana. Dan lagi-lagi, ini hanya obrolan, entah apa yang akan terjadi kedepannya, tidak ada manusia yang tau. 

    Caka masih berusaha meyakinkan, dan entah kemana setelah itu obrolan mereka, mereka justru membicarakan orang-orang yang menikah muda, ada yang bahagia, ada yang berujung merana. Dan saat pembahasan itu, Bisi lebih meyakinkan lagi "Nahh.. itulah. Aku tuh gak bisa nikah cuman cinta-cintaan gituu... harus ada prokernya.. Jelas, ada misi nya, mau ngapain" sambil bernada agak tinggi serius kemudian tertawa. Sesaat terdengar bahwa Bisi masih mempertahankan tekadnya untuk tidak memikirkan pernikahan, namun ia juga sadar bahwa pernikahan tidak hanya urusan percintaan saja tapi jauh lebih besar daripada itu. 

    Caka menimpali lagi, "Tapi Si, bisa jadi saat kamu menyelesaikan target kamu sendirian, kamu cuman bisa gapai seluas rawa. Tapi jika kamu kerjakan berdua (maksudnya dengan pasangan) maka kamu bisa meluass hingga seluas danau atau bahkan lautan". Bisi setuju dengan ucapan Caka, "Iya Cak, Aku setuju. Makanya aku juga nyari yang satu pemikiran sama aku. Karena kalau gak, aku ga yakin dia sanggup sama aku". Pembahasannya mulai mendalam, melibatkan rasa juga pikiran.

    Aci melihat dua kawannya, memerhatikan tiap ucapan mereka, kemudian menghembuskan napas panjang lalu melihat Bisi dan Caka bergantian, "Semoga kita dapat pasangan yang satu value, satu pemikiran, satu visi misi, dan bisa langkah bersama di dunia serta berkumpul di surga. Aamiin". Mereka bertiga tersenyum.

    Aci kemudian melanjutkan ucapannya sambil mengerutkan dahi lalu tersenyum, "Tapi biasanya yang kaya gitu (yang gak ada pikiran untuk nikah), ituu nikah duluan. Awas aja kamu Bisi, nikah duluan daripada aku sama Caka.", ucapnya sambil menatap serius Bisi. Bisi hanya menahan tawa juga malu. Aci berkata lagi, "Kalau itu sampai terjadi, aku bakalan jadi orang pertama yang akan marah ke kamu", ancam Aci kemudian tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. "Aku yang kedua", timpal Caka ikut merasakan kesal kalau hal itu beneran terjadi.

    Bisi tertawa melihat dua kawannya itu, "Nanti aku ngasih undangan ke kalian sambil cengengesan ya, hahahaha", pecah tawa di antara mereka. "Parah si kalau beneran", ucap Aci lagi.

    Begitulah sahabat, saling bertukar cerita juga pengalaman. Memikirkan hal-hal yang akan dilakukan kedepannya secara bersama, mungkin jalan mereka tak sama, ada di atas warnanya masing-masing. Tapi apapun perbedaan yang ada, sahabat atas dasar rasa tidak akan luntur pandangannya. Ia akan terus memandang dan memperhatikan.

*

Itulah sedikit cerita, di antara tiga manusia yang kini masih berjuang menuntut ilmu di kampus masing-masing. Manusia yang tak akan lelah mencari pembelajaran dari setiap pengalaman yang dilaluinya. Mungkin ini tak nyata atau.. tak akan nyata, tapi percayalah bahwa di ujung dunia sana pasti ada manusia yang berpikiran sama seperti kisah ini. Bukan meragukan atau tidak mau, tapi memang belum tepat juga belum telat. Manusia punya misi nya kenapa ia ada di bumi, untuk apa dan tak egois hanya memikirkan dirinya sendiri.

Ada orang lain...

Ada umat islam..


Sekian,


Dariku






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss Universe ala Islam

Wanita Yang Berbeda