Hidup Seruput
Lama
kiranya aku tak menulis. Mungkin karena hidupku yang terlalu banyak warna, atau
mungkin karena alam yang terlalu banyak canda.. hingga bagiku, sunyi adalah
kenikmatan tersendiri. Aromanya menenangkan, tak diketahui keberadaannya adalah
penghormatan.
Iya
yah, irama hidupku jadi berubah. Disinilah aku ingin bercerita mengenai
kesalahanku. Agar kalian juga tak mengalami kapal yang goyah.
Hidup
seruput, sehijau rumput dan se-ringan sayap nyamuk. Tak berharga tapi banyak
yang mengejarnya sekuat raga. Barangkali aku juga begitu, memandang dunia
terlalu serius sampai mengira semuanya harus seratus. Dan akhirnya,
ketidaksempurnaan dalam hidup menjadi kekesalan tersendiri. Memaksa dan
menuntut semuanya harus sesuai dengan keinginan dan rencana.
Hidup
seruput, tak ada artinya bila hanya mengejar dunia. Hidup seruput, sebentar,
se-tegukan, se-jinjit, dan tak selamanya. Lantas jika kita tahu begitu, kenapa
marah? Kenapa mengeluh? Kenapa bersedih? Kenapa khawatir?
Bukankah
kita punya Allah, yang mengatur alam semesta ini? Dia yang Maha Besar, Maha
Baik, Maha Adil??!
**
Pada
hakikatnya, manusia banyak terjebak dalam keinginannya sendiri. Manusia banyak
tersesat oleh apa yang ia ceritakan pada orang lain. Mereka yang terlalu
mem-branding dirinya begini dan begitu, akan memaksakan keadaan harus sama
dengan ekspektasinya. Manusia akhirnya frustasi, kalang kabut dengan dunia-nya.
Lalu drama kehidupan berikutnya adalah… mereka menyalahkan Tuhan.
Hati
itu bisa kotor, qalbu itu bisa kumuh. Kita yang tak pernah tahu kondisi hati,
hanya akan menjadi manusia yang kehilangan maknanya. Sebab-sebab hati itu kotor
adalah kita yang tak pernah membersihkannya. Salah bila kita merasa aman dengan
rutinitas yang lurus dan sholeh-sholeh saja? Padahal qalbu itu sangat dinamis,
berubah-ubah. Dan jangan mengira, mereka yang sering tazkiyatun nafs, itu
terbebas dari penyakit hati. Jangan samakan, jangan bilang kalau orang yang
belajar itu harus mendapat nilai seratus. Jangan bilang, orang yang kuliah S2
harus jadi direktur.
Mungkin
ini maksud Allah, memerintahkan hamba-Nya untuk sholat lima kali sehari. Sebab
Dia tahu, bahwa manusia itu butuh. Sebab Dia paham, bahwa hati manusia itu harus
terpaut. Qalbu yang bisa berubah tiba-tiba, Allah beri solusi dengan sholat,
waktu dimana manusia mendekat Tuhannya.
Kesimpulan
dari ini adalah, sesekali.. tengok hatimu, jangan menyalahkan dunia atau
takdir, bisa jadi kita yang salah memandangnya, kita yang salah merasakannya. Sering-seringlah
tengok kabarnya, hati, bersihkah.. atau kotor. Lalu bila kita sudah tahu, maka
bersihkanlah dengan istighfar, semakin mendekat pada Rabb. Tenangkan jiwamu,
hindari perduniawian. Jangan menceritakan dirimu terlalu sering pada orang
lain. Jangan membagikan warna dan hurufmu di sosial media. Karena itu bisa saja
mengotori hati, menjadi sombong tanpa sadar.
Ingat,
hidup ini sebentar. Nikmatilah. Bila belum, maka temukanlah maknanya. Dimulai dari
hati yang bersih, sebab dengannya kamu bisa melangkah dengan ringan. Memandang syukur
sebagai kebutuhan, bukan hal yang berat. Mari jalani hidup dengan ilmu, mari
arungi samudra bersama agama. Pesanku, dunia ini jangan dibuat serius, sekedarnya
saja, seruput. Tapi untuk bekal akhirat, mari kita kejar secara ugal-ugalan. Hehe,
dunia ditangan, akhirat di hati.
“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)
Komentar
Posting Komentar