Ternyata, Ada yang Lebih Aku Cintai, Kak.

Ternyata, Ada yang Lebih Aku Cintai, Kak. 

Dari beberapa waktu yang lalu, benar harus diakui bahwa hati ini telah menentukan arahnya. Kepada siapa… 

Namun, aku berfikir lagi. Saat Tuhan berikan kecewa, saat hati ini dipatahkan…  

Perih dan sesak memang menjadi hembusan anginnya. Berulang kali mulut berucap, “Ya Allah aku sakit hati, ya Allah aku patah hati, ya Allah aku patah hati”. Hanya pada-Nya, aku mengadu, atas apa yang aku rasakan. Atas apa yang membuatku berat. 

Kemudian aku berfikir, kak. 

Cinta yang dirasakan ini, tak terlalu menyakitkan setelahnya. Berkali-kali aku diam, merenungi apa yang harus aku syukuri, aku memaksa untuk bersyukur. Apa dan mengapa.. 

Diantara syukur-syukur itu, lagi-lagi hati ini jatuh pada firman-Nya. Tenang, dan sendu.. yang menguasai jiwa. Aku diam dan menangis, memeluk mushaf. “Aku mencintaimu…” 
“Ya Rabb..” 

Ternyata, ada yang lebih aku cintai. Diatas segala-galanya, yang lebih aku takuti, yang tak bisa sedetik pun ditinggalkan. Mungkin kemarin, terlupa, atau tertutupi dengan nafsu yang tak bisa dibenarkan. 

Aku jadi teringat, dulu kawanku pernah berkata, “Aku memang mencintaimu, tapi aku lebih mencintai penciptamu”. Nasehatnya membuatku terdiam. 

Mari berfikir, akhirnya aku paham. Sekarang, aku ingin mengatakan. 
Bisa jadi yang aku sukai bukan sosokmu, kak. Tapi ketaatanmu pada Allah. Mungkin yang aku kagumi itu bukan senyummu, kak. Tapi kecintaanmu pada Al-Qur’an, yang setia, yang mutqin, yang suaranya menyejukkan. Atau.. mungkin memang anda-lah sosok yang wajar disukai. Sebab perangai dan akhlakmu yang baik, menjaga, tak bermaksiat pada-Nya. 

Sebab.. coba renungkan. Kenapa aku mencintaimu yang mencintai Quran, yang sebabnyalah aku mencintaimu karena kecintaanmu pada Al-Quran, yang membuatku jatuh. Padahal.. aku bisa mencintai Al-Quran sendiri, tanpa harus perantaramu. Aku bisa sebagai subjek, yang tak memerlukan objek. 

Mencintai dalam diam atau apa pun itu, sama-sama menyakitkan. Diam-diam berdoa, sama sama melelahkan. Sungguh beratlah menjadi fatimah. Yang mampu tenang dengan perasaannya. Apalah kita yang tak sebanding. Benar. Sadarlah. 

Fokuslah pada cinta yang jelas. Pada-Nya yang memberi nikmat. Pada Al-Qur'an yang memberi syafaat. 

Cintamu itu berharga, hatimu itu mulia. 
Letakkanlah dengan benar. 

"Ternyata, ada yang lebih aku cintai kak. Allah dan Al-Qur'an"

aku berusaha menghentikan perasaan,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss Universe ala Islam

Wanita Yang Berbeda

"Aku gak bisa nikah cuman cinta-cintaan. Harus ada prokernya"