Aku merindukan masa lalu, Yah
Aku merindukan masa lalu, Yah
Ini adalah
sebuah ungkapan perasaan, bukan kumpulan motivasi. Bukan juga tentang nasehat. Sekali
lagi, ini hanya untaian kalimat juga cerita hidupku.. Penuh dengan perasaan,
Aku,
Si anak
bungsu
Yang
manja…
**
Perkenalkanlah aku, manusia yang
rintih. Sering sekali aku membuat gaduh keluargaku dengan beragam penyakit yang
entah datang darimana, tiba-tiba saja ada. Hehe. Kurang lebih enam tahun
berturut-turut, aku pernah keluar masuk rumah sakit satu tahun tiga sampai
empat kali. Entahlah, sakit apa sajalah itu, intinya “ada”. Jadi kalian bisa
terbayang kan?? Seberapa sabar orang tuaku. Apalagi ayah, bahkan pernah dalam
waktu semalam, ia pulang ke Tegal gara gara mendengar kabar bahwa aku dirawat. Duh,
perjalanan dari Jakarta ke tegal itu lumayan capek loh. Tapi setibanya di
Tegal, ayah langsung ke rumah sakit, membawa kue dan jajanan favoritku. J
Ayah itu memang sengaja memanjakanku
dari kecil, ya mungkin karena abangku yang selalu usil dengan adeknya, jadi
ayah selalu berpihak padaku. Tapi walaupun ayah memanjakanku, ada satu dua hal
yang ayah tanamkan ke aku. Bahwa tak semua yang kita inginkan bisa dituruti. Katanya,
hidup kadang tak seadil itu. Dan kata adil itu tidak dinilai dari kesesuaian
kenyataan dengan harapan. Beberapa masalah, aku paham. Ayah selalu
menegaskannya lagi.
Dan tanpa sadar, aku banyak meniru
ayah. Mungkin dirumah aku ini gadis manis penurut dengan ribuan manjanya. Tapi diluar?
Aku ini bak pria tangguh berani dengan sejuta argumenku. Dan aku juga ingat
kata kakak-ku di pondok, kita harus tau kapan tegas dan kapan bermain-main. Kapan
memasang muka serius, dan kapan memasang muka konyol. Ah. Aku ini sama seperti
ayah, si pembelajar.. dari setiap kejadian yang ada.,
Itu yang
ayah ajarkan
Maka dari itu, duniaku sangat gelap
di bulan desember lalu. Berlanjut bulan-bulan berikutnya. Perlahan, seperti
sekarang, cahaya mulai bermunculan, walau belum terang. Kita tahu bahwa apa
saja yang menyangkut kedua orang tua, pasti sangat sensitif, membuat tangis,
dan berpengaruh ke kehidupan. Dan saat itu, aku diuji. Keluargaku, mendapat
sapaan paling keras kasih sayangNya.
Saat itu, aku seperti orang
kebingungan. Tak tahu arah. Diam. Bengong. “Mati”, mungkin itu gambarannya. Aku
memang bernafas, tapi jiwaku mati, hatiku hancur, pikiranku sudah tak ada lagi
isinya. Hanya satu, harapan. Berulang kali dalam sholatku menangis, berdoa
selepasnya, meminta nyawa, meminta kekuatan, meminta kesempatan sekali lagi
kepada Maha Pengatur Kehidupan.
Dan kalian juga harus tahu, saat
Tuhan mengabulkan rengekan doa-doaku, aku menangis sedalam-dalamnya saat
ternyata “semuanya benar baik-baik saja”. Padahal sebelumnya, dokter sudah
mengatakan “sepertinya tidak ada harapan”, abang berkata “ikhlaskan saja. Biar ayah
gak tersiksa lagi”. Sesak, geram.. aku menangis di kamar mandi rumah sakit. “Aku
pasrah” adalah kata yang terucap dalam tangisku, aku benar-benar hanya
bergantung padaMu, Tuhan..
Tapi Allah masih memberiku
kesempatan, Allah memberiku kejutan. Esoknya, ayah berhasil melewati masa
kritisnya, keluar dari ICU. Alhamdulillah. Walau sebulan kedepannya, ayah
mengalami trauma, pikirinnya terganggu. Ayah belum mengenali aku. Kejadian
kebaran warung itu, masih mendominasi hidupnya, mengoyak harapannya, hingga ia
berhalusinasi sesuai keinginannya. Kali ini, Allah uji lagi diriku.
Keadaan-keadaan porak poranda itu,
berhasil aku dan abangku lewatin. Kami berdua berdiri tegak untuk kesembuhan
Ayah dan Bunda. Sendiri, dengan Tuhan. Kami menangis, kami bercerita, kami
berharap.
Hingga tujuh bulan ini. Ayah masih
dalam proses penyembuhan luka-lukanya. Dan Bunda, fisiknya belum seperti sedia
kala.
*
“Yah, aku rindu masa lalu”, adalah
kalimat yang kuucapkan dalam hati. Aku mengingat indahnya masa lalu. Rasa-rasanya,
kalau aku tau dari dulu ini akan terjadi, aku akan maksimal menghabiskan waktu
bersama Ayah. Tapi.. sebagaimana manusia lain yang fakir ilmunya, berbatas
pengetahuannya.. aku menyia-nyiakan. Dan kini, aku rindu masa lalu.
Ayah. Aku rindu saat ayah menjadi
pembelaku. Aku rindu saat ayah selalu ada buat aku. Aku rindu saat ayah selalu
siap didepanku. Aku rindu fisik ayah, sosok ayah, tenaga ayah. Yang mana kini..
sudah waktunya aku yang menjadi itu buat ayah. Aku yang berdiri depan ayah, aku
yang akan selalu ada buat ayah.
Terkadang aku merasa dunia terlalu
cepat untuk aku yang memegangnya. Kadang aku merasa tak siap. Kadang aku masih
ingin bermanja-manja dibawah pelukan ayah. Tapi Allah ubah ceritanya, kini..
Aku yang harus “berdiri”. Keras. Tapi inilah kehidupan.
Aku selalu menangis karena iri, saat
aku mendengar cerita temanku. Cerita temanku yang didatangin ayahnya, cerita
tentang hal-hal biasa yang dilakukan ayah kepada anaknya. Aku iri. Aku juga
ingin. Bahkan seremeh kemarin kabel setrikaku rusak, aku mengandai-andai.. aku harap
ayahku bisa yang memperbaikinya. Padahal dulu, aku semanja itu.. yah,
Aku merindukan masa lalu, saat ayah
mengantarku ke pondok di Kuningan. Dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor.
Indah, seru. Ayah tau aku ini mudah mengantuk, jadi sesekali ia sengaja memilih
jalan yang berlubang, katanya biar aku tak ngantuk. Bercandaan di atas motor,
sesekali berhenti di indomart beli minum, beli jajan.
Aku selalu takut jadi hamba yang tak
bersyukur bila mengingat masa lalu. Hingga aku berkeinginan lagi, apa bisa? Seolah tak mungkin lagi.
Bisa.
Mungkin
nanti, gantian aku saja yang menyetir ya ayah.. Hehe, kali ini aku gak mungkin
iseng, kaya ayah dulu.
Kehidupan itu, selalu tak terduga. Selalu
tak diinginkan. Selalu memaksa kita untuk improvisasi, ubah, cermat, jalani. Aku
berharap rindu-rindu ini Allah gantikan dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang
lain, dari arah mana saja. Pun aku meminta doa, untuk kesembuhan ayahku, semoga
cepat pulih, bisa berjalan, bisa bermain bulu tangkis lagi…, aamiin.
Aku,
Gadis
bungsu,
Sekian.
Komentar
Posting Komentar