Kisah Yang Dirindukan

 

KISAH YANG DIRINDUKAN

Olehku,

 

Judgement. Kalian kalo ketemu emak emak, pasti gitu. Entah kata darimana, tetiba keluar aja. Yaa ada yang becanda, ada yang seriusan. Menuntut kita buat gak baperan. Tapi itulah mereka, selalu menyampaikan apa yang terlintas di pikirannya. Tanpa drama, tanpa peres. Nyata adanya. Dan itu yang kurindukan dari sekian purnama. Dengan mereka bercengkrama.

Dari ramadhan day 1, kutunggu momentnya. Nyatanya, sekarang harus beda. Keluar rumah harus pakai masker, membuat orang gak tau itu aku atau itu kamu. Sepi. Diam, tak bersuara. Demi menjaga keselamatan, katanya sih gitu. Sholat taraweh, tak terdengar lagi suara emak2 rempong yang selalu gembar gembor rapatin shof nya, jangan bolong, kaki nempel. Wkwk. Sudah tak ada. Bahkan sesi ceramah sholat taraweh, tak ada lagi rumpian emak-emak. Diam. Sunyi. Menurutku, itu tak menyenangkan. Bukan yang kurindukan. Tapi begitu adanya. Mau gimana lagi, hehe.

Sampai tadi malam, biar kuceritakan kisahku. Usai sholat isya, entah kenapa tak ada angin sama sekali. Hawa panas, membuat seluruh tubuh berkeringat. Iyasih, terdengar gemuruh di langit. Seolah mengabarkan, sebentar lagi hujan. Dalam kondisi yang seperti itu, mau tak mau aku melepas maskerku. Sumpah panas banget, gak kuat. Ku kipas-kipas lah mukenahku. Ku lingkis lengan baju sampai ke atas, sembari mengeluh, duh panasnya. Emak-emak samping kananku, merasakan hal yang sama. Dan gara-gara sumuk, masker jadi harus dibuka. Disitulah muncul percakapan yang berbuah tawa. Yang kurindukan sekian purnama, tiba juga di malam tadi.

Ada yang membawa kipas tangan, dikipasinlah, aku juga kena semilir anginnya. Memang jiwa keibuan yah. Percakapan bermula dari topik 'Gempa di sukabumi'. "Tadi habis maghrib ada gempa". Rame lah itu, jujur sebagai anak muda yang suka nyrobot masuk ke dunia emak-emak lebih memilih untuk jadi tim setuju. Meng-iyakan setiap argument, merespon apa yang diinginkan. Sampai muncullah candaan. "Emang sukabumi dimana sih put?", tanyalah mereka. Aku melongo ditanya, mana saya tau soal begituan. Peta Indonesia aja gak hafal. Wilayah ada dimana aja gak tau. Wkwk. Kujawablah "Hehee.. gak tauu". "Ehh.. kie maning, putri sing sekolahe duwur be ora ngarti. Nyong mah wajar ora ngerti", begitulah kalo kutranslate ke bahasa aslinya. Darisitu, entah darimananya. Ekspresi, nada pengucapannya membuat suasana jadi komedi. Tertawa bertiga, yaa walaupun jadi pusat perhatian sih, hehe. Untungnya kita bukan di dalam masjid, tapi di terasnya. Yang senasib mencari angin, berujung tawa.

Kemudian ditutuplah dengan emak satu lagi "Putri mah ngertine cuman yayang e tok oh", sambil berekspresi, yaa kalian tau sendiri lah gimana. Hehe. Begitulah.

Mungkin mereka memang suka menyimpulkan sendiri (yaa karena pengalaman kali, hehe), yang kadang buat mataku melotot gak percaya kata itu yang keluar, kemudian tersenyum menertawakan suasana. Merasa jadi manusia paling bahagia. Wkwk, cie elah.

Tapi itu yang kurindukan gais. Moment, yang dinanti dari ramadhan tahun lalu. Selalu. Bahkan saat kuliah subuh, yaa lagi lagi berjarak. Alhasil tak ada yang ku amati, hanya ngantuk yang menghampiri.

Ada kisah lagi, mengenai kuliah subuh. Dari awal puasa, gak bisa berangkat. Karena biasanya dateng sama ibu, tapi ibu gak pulang. Dan aku malu dateng sendiri. Hehe, gak bebner sih ini. Jangan ditiru.

 Sampai hari ke tiga atau ke empat gitu, satu emak-emak berteriak mencariku. "Putri kemana? Kok gak berangkat". Sampai aku di demo, berkali-kali. Hahahaha. Sampai ada juga emak-emak yang mengadu lagi, "Kenapa gak berangkat sih? ituu si (menyebutkan nama) ngomongin terus. "Putri ora mangkat?. Kowen sih laka sing ngampiri". Lah kita kan gak enak gedor-gedor rumahmu. Kujawab "Wong putrine ora metu, yaa ditinggal. Ari pen mangkat mah, ngetem neng ngarep tuli iyuh mangkat bareng oh". (Sambil berekspresi) Nunggu aja di depan, ntar berangkat bareng", katanya panjang kali lebar. Aku yang mendengarnya, tak berhenti tersenyum. Lucu pengaduannya. Ini pada kenapa sih, gak berangkat kuliah subuh gak jadi rusak kann acaranya? wkwk. Lucu emang.

Begitulah, yang kurindukan. Yang kualami. Walaupun kisahnya sedikit, walaupun momentnya cuman sebentar. Ingin kuabadikan ditulisan ini, agar kelak saat membacanya bisa jadi rindu juga candu. Ini aku, manusia mungil dibelahan bumi ini, yang selalu merindukan.

 

By, pukosa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss Universe ala Islam

Wanita Yang Berbeda

"Aku gak bisa nikah cuman cinta-cintaan. Harus ada prokernya"